Hay.... Datang terus yach

Sabtu, 10 April 2010

BELAJAR DARI KELEDAI


Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, semetara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun (ditutup karena berbahaya); jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur. Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya.Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu Sementara tetangga-tetangga si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri!!!

Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari 'sumur' (kesedihan, masalah,dsb) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran, dan hati kita) dan melangkah naik dari 'sumur' dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.
Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari 'sumur' yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah ! Guncangkanlah hal negatif yang menimpa dan melangkahlah naik !!!
Ingatlah aturan sederhana tentang Kebahagiaan :


1. Bebaskan dirimu dari kebencian
2. Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan
3. Hiduplah sederhana
4. Berilah lebih banyak
5. Berharaplah lebih sedikit
6. Tersenyumlah
7. Miliki teman seperti aku :)


Seseorang telah mengirimkan hal ini untuk kupikirkan, maka aku meneruskannya kepadamu dengan maksud yang sama.


GUNCANGKANLAH !!!!


"Entah ini adalah waktu kita yang terbaik atau waktu kita yang terburuk, inilah satu-satunya waktu yang kita miliki saat ini!"

Kesabaran Adalah Jiwa Ibadah Kita

"Dikala beliau menerima berbagai kedzhaliman itu beliau memanjatkan do'a : “Ya Allah, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui (H.R. Bukhari, Kitabul Istitabil Murtadin wal Mu'anidin, dan H.R. Muslim dalam Kitabul Jihad, bab : Ghazwatu Uhud). "


Dalam pembukaan kitab Tsalatsatul Ushul yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab termaktub : “Ketahuilah, rahimakallah, sesungguhnya wajib bagi kita mempelajari empat masalah : Pertama, ilmu mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya dan mengenal Dinul Islam berdasarkan dalil-dalil. Kedua, mengamalkannya. Ketiga, mendakwahkannya. Keempat, bersabar terhadap gangguan didalamnya.

Dari empat masalah tersebut, yang melandasi dan menjiwai seluruh prosesnya adalah kesabaran. Kesabaran sendiri merupakan hal yang utama, menjadi inti setiap ibadah mahdhah dan ghayr mahdhah, semisal contohnya ibadah shalat. Shalat adalah amalan yang pertama dihisab, sebagaimana sabda Rasulullah SAW dengan sanad Abu Hurairah r.a. dan perawi Imam Turmudzi : "Sesungguhnya amal seseorang yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, maka ia benar-benar beruntung dan berhasil, tetapi jika shalatnya rusak maka ia benar-benar merugi...” Shalat bagaimana yang baik ? Saat para mufasir mengaitkannya dengan ayat : “Hai orang-orang yang beriman, jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.''(Q.S. 2 : 153), maka dapat kita insyafi bahwasanya shalat berhiaskan kesabaranlah yang bisa menjadi penolong, pelipur, membawa kita pada keridlaan Allah.

Setelah kita membahas perihal sabar sebagai jiwa dari ibadah yang bersifat khusus semisal shalat, maka mari kita kembali menelisik pengertian sabar sebagai jiwa dari empat hal yang diungkapkan pada alinea awal.

Menurut Syarah Tsalatsatul Ushul, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin, pengertian sabar yang melingkupi keempat perkara tersebut adalah : menahan diri untuk tetap menaati Allah, tidak bermaksiat kepada-Nya, dan tidak membenci takdir-takdir yang ditetapkannya. Wujud dari kesabaran itu tergambar dari : (1) ketahanan diri, atau tidak membenci, bosan, berkeluh-kesah dalam menetapi ilmu ma'rifatullah, ma'rifatud din, ma'rifatun nabi ; (2) ketahanan diri, atau tidak membenci, bosan, berkeluh-kesah dalam mengamalkan ilmu ma'rifatullah, ma'rifatud din, ma'rifatun nabi ; (3) ketahanan diri atau tidak membenci, bosan, berkeluh-kesah dalam mendakwahkan ilmu ma'rifatullah, ma'rifatud din, ma'rifatun nabi kepada orang lain ; (4) ketahanan diri atau tidak membenci, bosan, berkeluh-kesah saat mendakwahkan ilmu ma'rifatullah, ma'rifatud din, ma'rifatun nabi kepada orang lain, sedang orang lain itu malah mengacuhkan, merintangi, atau malah mengganggu usaha kita.

Semoga kita bisa menginsyafi betapa sabar merupakan jiwa dari setiap gerak ibadah kita. Uswah kita, Rasulullah SAW-pun telah memberi teladan, bagaimana beliau begitu bersabar saat menghadapi gangguan dan penganiayaan dari kaumnya, kendati darah sampai mengucur membasahi wajah beliau. Dikala beliau menerima berbagai kedzhaliman itu beliau memanjatkan do'a : “Ya Allah, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui (H.R. Bukhari, Kitabul Istitabil Murtadin wal Mu'anidin, dan H.R. Muslim dalam Kitabul Jihad, bab : Ghazwatu Uhud). Sebuah kesabaran yang tak ada bandingannya, mengingat kalau beliau mau, tentu bisa saja beliau tinggal meminta Jibril a.s. memusnahkan orang-orang yang mengganggunya dengan sekali tepuk. Tapi karena kesabarannya, Rasulullah SAW lebih memilih untuk memberi kesempatan kepada kaum yang diserunya. (red/aea)

BAGAIMANA MENGEMBANGKAN KEKUATAN KEPERCAYAAN PADA DIRI ANDA ?

-

1. Berpikirlah sukses, jangan berpikir gagal.

-

Di rumah, di tempat kerja gantilah berpikir gagal dengan berpikir sukses. Apabila anda menghadapi situasi sulit, berpikirlah: “Aku akan menang !”, jangan berpikirAku mungkin kalah”. Jika anda bersaingan dengan orang lain, berpikirlah : “Saya adalah sama dengan orang yang paling baik !”, jangan:”Saya tak masuk hitungan

-

Jika ada peluang pekerjaan muncul di hadapan anda, berpikirlah: “Saya bisa melakukannya !”, jangan : “Saya tak bisa”. Usahakan supaya pikiran Saya akan berhasilmeliputi berpikir anda. Berpikir sukses menentukan jenis pikiran anda dan membuatnya mampu membikin rencana-rencana yang menghasilkan sukses.

-

2. Secara teratur dan terus-menerus ingatlah bahwa anda lebih baik dari yang anda sangka.

-

Orang-orang yang sukses bukanSuperman”. Orang yang sukses tak memerlukan super cerdas. Sukses bukan hal yang misterius. Sukses bukan nasib baik. Orang-orang yang sukses adalah orang-orang biasa yang telah mengembangkan kepercayan pada dirinya sendiri dan kepada apa yang dilakukannya. Jangan sekali-kali menganggap diri terlalu rendah !

-

3. Lipat gandakan kepercayaan anda dengan menciptakan tujuan-tujuan yang besar.

-

Ukuran sukses anda sama dengan ukuran kepercayaan anda. Jika anda asyik dengan tujuan-tujuan kecil, maka anda akan mendapat hasil-hasil yang kecil. Jika anda asyik dengan tujuan-tujuan besar, maka anda akan mendapat hasil-hasil yang besar. Perhatikan kenyataan yang ini : “Gagasan besar dan rencana-rencana besar sering lebih mudah (tak lebih sukar) daripada rencana-rencana kecil

INOVASI Atau MATI !!?


Saya baru saja menemukan video baru yang memberikan pelajaran berarti tentang pentingnya ide-ide baru dalam hidup kita. Pengemis ini menerapkan sebuah ide segar, sederhana, dan mudah dilakukan. Setelah itu penghasilannya pun meningkat drastis. OK, saya tidak setuju dengan mengemis, namun bukan itu bahasan kita kali ini. Fokus kita adalah bagaimana sebuah ide bisa meningkatkan penghasilan Anda.

Jika orang malas seperti pengemis ini saja bisa meningkatkan penghasilan, mengapa kita tidak?
Kita bisa mencari ide-ide segar untuk meningkatkan penghasilan kita. Terlepas apa pun pekerjaan kita.

“Saya kan karyawan, gajinya sudah tetap.”

Bukan menjadi alasan, selalu ada cara lain untuk meningkatkan penghasilan, bahkan karyawan sekalipun.
Bukankah ada ide pindah kerja, pekerjaan sampingan, investasi, dapat promosi cepat, dan berbagai kemungkinan lainnya. Jika kita mau berpikir dan membuka mata, banyak peluang yang bisa kita tangkap untuk meningkatkan penghasilan.

Apa lagi jika Anda seorang entrepreneur, kreativitas harus menjadi bagian hidup Anda sehari-hari. Sebagai contoh pebisnis internet yang bekerjanya seperti karyawan (hanya mengerjakan pekerjaan rutin saja), maka bisnisnya bisa mati. Seorang pebisnis harus terus mencari ide-ide baru baik untuk produk, pemasaran, dan proses untuk bertahan dan bertumbuh di tengah era persaingan yang ketat seperti saat ini.
Pilihan Anda saat ini adalah, Inovasi atau Mati!?.

Sebab-Sebab Musibah Terasa Ringan

Sebab-Sebab Musibah Terasa Ringan

1. Menunggu pahala dan ganjaran dari sisi Allah.
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang sabar yang bersabarlah yang dicukupkan pahala atas mereka tanpa batas”.(QS.Az-Zumar:10)

2. Melihat kepada orang lain yang mendapat musibah
Seandainya bukan karena banyak orang di sekitarku yang menangisi saudara-saudara mereka, pastilah aku akan bunuh diri. Menolehlah ke kanan dan ke kiri. Apakah yang Anda lihat di sekeliling hanya orang-orang yang tertimpa musibah dan ujian semua? Seperti itulah. Di setiap hamparan lembah selalu saja ada yang tertimpa kesusahan.

3. Musibah yan gmenimpa diri Anda itu jauh lebih ringan dibandingkan dengan yang menimpa orang lain.

4. Musibah itu menimpa hal-hal yang berkaitan dengan dunia saja, bukan agama

5. Melakukan ubudiyah(pengabdian) dalam sebuah kepasrahan pasa saat-saat tertekan terkadang lebih agung dibandingkan dengan yang dilakukan pada saat-saat bahagia.

6. Tidak ada siasat untuk menghilangkan musibah.
“Tak usahlah berkilah untuk menghindarinya kerena berkilah untuk menghindar hanyalah menghentikan berkilah itu sendiri”.

7 Prinsip Dahsyat Manajemen Waktu yang Kreatif

1. Selalulah aktif, bukan reaktif
Buatlah keputusan-keputusan aktif tentang bagaimana Anda menghabiskan waktu Anda daripada reaktif terhadap setiap tuntutan yang Anda temui. Tentukan apa saja yang penting bagi Anda, dan
katakan "tidak" terhadap segala sesuatu yang bertentangan.

2. Tentukan sasaran
Dengan menentukan sasaran, Anda tahu tujuan Anda. Tanpa sasaran, Anda akan kehilangan arah dan bereaksi terhadap kesempatan2 dan persoalan2 yang tidak pasti, dengan pandangan sempit atas akibat yang mungkin timbul dalam kehidupan pribadi dan profesional Anda.

3.Tentukan prioritas dalam tindakan Anda
Begitu Anda telah menentukan sasaran, Anda perlu menentukan prioritas tindakan guna mencapai sasaran2 itu. Kunci dalam menentukan prioritas adalah dengan mengidentifikasikan apa yang penting dari aktivitas Anda secara tepat dan menentukannya sebagai prioritas.

4. Pertahankan fokus Anda
Maksimalkan produktivitas Anda dengan berkonsentrasi pada satu proyek yang utama satu per satu. Setelah menentukan sasaran dan prioritas tindakan Anda, pantaulah perkembangannya hingga proyek itu selesai. Apa pun yang Anda lakukan, lakukanlah dengan seluruh kemampuan Anda.

5. Ciptakan tenggat waktu yang realistis
Tenggat waktu yang realistis dapat membantu Anda tetap fokus pada sasaran jangka panjang dan terutapa pada prioritas jangka pendek.

6.Lakukan sekarang (DO IT NOW)
D = Divide. Bagi menjadi tugas yang lebih kecil.
O = Organize. Aturlah bagaimana melakukannya.
I = Ignore. Abaikan gangguan yang mengalihkan perhatian.
T = Take. Ambil kesempatan mengetahui bagaimana melakukannya sendiri.
N = Now. Sekarang.
O = Opportunity. Ambil keuntungan dari kesempatan yang menguntungkan Anda.
W = Watch out. Waspada pada pemborosan waktu.

7. Seimbangkan hidup Anda.
Untuk menerapkan prinsip2 manajemen waktu yang kreatif ini tidak hanya dalam pekerjaan, tetapi juga dalam gergaul dan beraktivitas mengisi waktu luang. Jadi seimbangkanlah hidup Anda seperti
menciptakan waktu bagi diri sendiri, sahabat, saudara, dan yang lainnya.